SAJAK SANG ILALANG
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Kamis, 23 Oktober 2014
Laut
Bawalah aku pada kesejatian ombak
Bijak dalam gemuruh samudra
Tanpa kenali rasa takut pada kesendirian
Namun, bukankah engkau tampung semua kesahku?
Balada buihMu di setiap pergumulan hidup
Atau jejakMu prasastikan di nuraniku?
Laut, inilah aku
Hanyutkan rasa pada semua dunia
Jelang surgawi di deburan hidup tak bertepi
Kamis, 19 Juni 2014
Titik
Pada mulanya adalah gelap
Lalu muncul titik putih
Seputih air susu ibuku
Titik itu menjadi dua
Ada gelap dalam putih, ada putih dalam gelap
Mereka saling bercumbu dalam hasrat
Lalu membentuk putaran yang makin cepat
Saling berbenturan dalam keabadian
Ciptakan titik-titik kecil yang mewujud
Beda namun saling melengkapi
Berpijar pada galaksi yang makin maha
Jika sampai pada waktunya
Semua akan membesar dan mengecil
Kecil dan kecil
Hingga menjadi satu titik lagi
Dan akhirnya
Kekosonganlah yang akan menyambut kita.
( Meditasi di Palmerah )
Kamis, 24 April 2014
Permainan
Pada mulanya adalah ketidakkekalan
berlomba menuju cahaya yang makin bersinar
begitu sampai,jiwa seakan tidak percaya
namun, tangan Ilahi tuntun nan hangat
coba tenangkan gejolak air di dada
ah, barangkali semua hanya permainan
permainan menjadi apa kita?
tidak usah banyak bertanya
tidak usah banyak merenung
semua akan baik-baik saja
dan...
lihatlah, Tangan itu kembali menuntun tanganku.
Selasa, 15 Oktober 2013
Seharusnya
Bagai pendaran cahaya
Hangat nan lembut di depan altarMu
Telanjangi roh yang kan kembali pada rumahMu
Meneliti bagai jarum di atas jerami
Bagai dongeng yang setia menemani di mimpi-mimpiku
Oh, kehidupan dan kematian
bagai roda di putaran kemungkinan
Mencoba melihat diri walau sulit kenali
namun air di sungaiMu setia jadi cermin
Entah suka atau duka
Bagiku sama saja karna embunpun pasti hilang di saat siang
Bagai titik di hamparan semesta
Mengkaji pada batas nalar yang sempit
Atau perasaan yang selalu bohong karena keakuan
Andai tetes embun masih ada di ujung daunNya
Ingin kutunggu walau tahan kantukku
Biar semua terjadi karena memang terjadi
Minggu, 22 September 2013
Taman Hatiku
Di taman hatiku, cahaya putih berpendar
berputar suguhkan batas ruang dan waktu
sirami luluhnya nestapa di penghujung gaibNya
Kulangkahkan kakiku tinggalkan kursi tua
sambut pendaran cahaya putih yang mewujud seperti bunga
bunga yang indah, bunga lili
Kutersenyum dan berdoa
penyelenggaraanNya jauh mengatasi galaksi hatiku
kukembali,duduk di kursi tuaku
meraut hati,beningkan diri, gapai kasihMu
Minggu, 07 April 2013
Yang Ada
menjadi seperti apa Yang Ada
jangan ada tangis
angin tetap tahu kemana arah jalannya
tetaplah basuh jubah kita
berdoa,bermati raga, melayani ikhlas padaNya
sekarang,
aku adalah salah satu kumpulan rahib
di dunia yang nisbi dan acak
tanpa gamang selalu belajar dari pola yang misteri
sekali lagi,
tetaplah berjalan dalam doa
karena air mata dan tawa
tiada berbeda
biarlah hidup seperti apa Yang Ada.
(palmerah, 8 april 2013)
Selasa, 02 April 2013
Paskah 2013
Ku lihat batu pualam di dekat salibMu
Bercerita pada hati yang makin menerima
Putih salju, air mata yang lama mengering
Yesaya saat itu berujar
"jangan percaya pada pemilik hembusan nafas"
Dan akupun kini terguncang
Titik waktu ini mengajakku diam, bisu
Pada kemurnian dan sebuah janji
Pelangi pada hujan
Tuhan,ingin kuterpekur di bawah salibMu
Bernyanyi atau menangis dalam jiwa dan rohku
Yang kini aku sulit tuk bedakan
( gereja Petrus Kanisius )
Langganan:
Postingan (Atom)